dean

Sabtu, 11 Februari 2012

LAYANAN ORIENTASI DAN LAYANAN INFORMASI

A.  LAYANAN ORIENTASI

1.    Pengertian Layanan Orientasi

Ada beberapa versi pengertian Layanan Orientasi yang kami dapatkan dari berbagai sumber, di antaranya:
Menurut Prayitno (2004) orientasi berarti tatapan kedepan ke arah dan tentang sesuatu yang baru. Berdasarkan arti ini, layanan orientasi bisa bermakna suatu layanan terhadap siswa baik di sekolah maupun di madrasah yang berkenaan dengan tatapan ke depan ke arah dan tentang sesuatu yang baru.
Layanan orientasi yaitu layanan bimbingan dan konseling yang memungkinkan peserta didik  dan pihak-pihak lain yang dapat memberikan pengaruh yang besar terhadap peserta didik (terutama orang tua) memahami lingkungan (seperti sekolah) yang baru dimasuki peserta didik, untuk mempermudah dan memperlancar berperannya peserta didik di lingkungan yang baru ini.
Layanan orientasi mempunyai fungsi sebagai usaha pengenalan lingkungan sekolah sebagai lingkungan yang baru bagi siswa. Pengenalan-pengenalan lain yang dapat diberikan kepada siswa seperti kurikulum baru yang diterapkan sekolah, waktu proses belajar di sekolah. Pelaksanaan layanan orientasi ini berdasar pada anggapan bahwa memasuki lingkungan baru dan mengadakan penyesuaian bukanlah hal yang mudah (Prayitno & Amti, 1999).[3]
Layanan orientasi yaitu layanan bimbingan konseling yang memungkinkan peserta didik (klien) memahami lingkungan (sekolah) yang baru dimasukinya, dalam rangka mempermudah dan memperlancar berperannya peserta didik di lingkungan yang baru itu.[4]
Dari beberapa pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa layanan orientasi adalah layanan yang diberikan kepada peserta didik serta pihak-pihak lain untuk mengenal dan memahami keadaan dan situasi yang ada pada lingkungan sekolah secara umum agar peserta didik dapat dengan mudah menyesuaikan diri sebagaimana materi yang diberikan.
Adapun materi kegiatan layanan orientasi menyangkut:
a.    Pengenalan lingkungan dan fasilitas sekolah.
b.    Peraturan dan hak-hak serta kewajiban siswa.
c.    Organisasi dan wadah-wadah yang dapat membantu dan meningkatkan hubungan sosial siswa.
d.   Kurikulum dengan seluruh aspek-aspeknya.
e.    Peranan kegiatan bimbingan karier.
f.     Peranan pelayanan bimbingan konseling dalam membentuk segala jenis masalah dan kesulitan siswa.[5]

2.    Tujuan Layanan Orientasi
Layanan orientasi bertujuan untuk membantu individu agar mampu menyesuaikan diri terhadap lingkungan atau situasi yang baru. Dengan kata lain agar individu dapat memperoleh manfaat sebesar-besarnya dari berbagai sumber yang ada pada suasana atau lingkungan baru tersebut. Layanan ini juga akan mengantarkan individu untuk memasuki suasana atau lingkungan baru.[6]
Tujuan program orientasi ialah untuk memberikan pengenalan kepada murid-murid tentang kegiatan dan situasi pendidikan yang akan ditempuhnya.(Djumhur I. & Drs. Moh. Surya ; 47 ; 1975) Selain itu layanan orientasi diharapkan dapat mencegah timbulnya permasalahan penyesuaian siswa dengan pola kehidupan sosial, belajar dan kegiatan lain di sekolah yang berkaitan dengan keberhasilan siswa. Begitu juga bagi orang tua agar memahami kondisi dan situasi sekolah sehingga dapat mendukung keberhasilan anaknya.[7]
3.    Fungsi Layanan Orientasi
Layanan orientasi di sekolah berfungsi untuk pemahaman dan pencegahan. Secara rinci pengertiannya menurut SK MENDIKBUD nomor 025/0/1995 jo SK Menpan nomor 84/1993 tentang Guru dan Angka Kreditnya adalah sebagai berikut:

a.    Fungsi pemahaman yaitu membantu siswa untuk mengenal dan memahami diri dan lingkungannya secara total. Dimaksudkan agar peserta didik dapat mengenal dan memahami lingkungan yang baru bagi dirinya, sehingga peserta didik tidak mengalami kesulitan dalam penyesuaian diri dengan dunia yang akan ditempuhnya.

b.    Fungsi pencegahan yakni upaya agar peserta didik terhindar dari berbagai permasalahan yang mungkin timbul, yang dapat mengganggu dan menghambat proses perkembangannya. Dimaksudkan agar peserta didik dapat terhindar dari permasalahan yang bisa timbul akibat tidak dapat menyesuaikan diri dengan lingkungannya sehingga mengganggu keberhasilannya di sekolah maupun di luar. Serta peserta didik tidak
merasa terkucilkan oleh teman-temannya.

4.    Metode yang Digunakan dalam Layanan Orientasi
Metode yang dapat digunakan dalam pemberian layanan orientasi kepada siswa dapat dengan ceramah, tanya jawab, diskusi, demonstrasi, program home room dan kunjungan lapangan.[8]
Layanan orientasi bisa dilaksanakan dengan teknik-teknik:
a.    Penyajian, yaitu melalui ceramah, tanya jawab, dan diskusi.
b.    Pengamatan yaitu melihat langsung objek-objek yang terkait dengan isi layanan.
c.    Partisipasi, yaitu dengan melibatkan diri secara langsung dalam suasana kegiatan, mencoba, dan mengalami sendiri.
d.   Studi dokumentasi, yaitu dengan membaca dan mempelajari berbagai dokumen yang terkait.
e.    Kontemplasi, yaitu dengan memikirkan dan merenungkan secara mendalam tentang berbagai hal yang menjadi isi layanan.
Teknik-teknik tersebut di atas dilakukan oleh konselor, penyaji, nara sumber, dan para peserta layanan sesuai dengan peran masing-masing.[9]

5.    Pelaksanaan Layanan Orientasi
Proses atau tahap layanan orientasi adalah sebagai berikut
a.    Perencanaan. Pada tahap ini, hal-hal yang dilakukan adalah:
1)   Menetapkan objek orientasi yang akan dijadikan isi layanan,
2)   Menetapkan peserta layanan,
3)   Menetapkan jenis kegiatan, termasuk format kegiatan,
4)   Menyiapkan fasilitas termasuk penyaji, nara sumber, dan media,
5)   Menyiapkan kelengkapan administrasi.
b.    Pelaksanaan. Pada tahap ini, hal-hal yang dilakukan adalah:
1)   Mengorganisasikan kegiatan layanan,
2)   Mengimplementasikan pendekatan tertentu termasuk implementasi format layanan dan penggunaan media.
c.    Evaluasi. Pada tahap ini, hal-hal yang dilakukan adalah:
1)   Menetapkan materi evaluasi,
2)   Menetapkan prosedur evaluasi,
3)   Menyusun instrumen evaluasi,
4)   Mengaplikasikan instrumen evaluasi,
5)   Mengolah hasil aplikasi instrumen.
d.    Analisis hasil evaluasi. Pada tahap ini, hal-hal yang dilakukan adalah:
1)   Menetapkan standar analisis,
2)   Melakukan analisis,
3)   Menafsirkan hasil analisis.
e.    Tindak lanjut. Pada tahap ini, hal-hal yang dilakukan adalah:
1)   Menetapkan jenis dan arah tindak lanjut,
2)   Mengomunikasikan rencana tindak lanjut kepada berbagai pihak yang terkait,
3)   Melaksanakan rencana tindak lanjut.
f.     Laporan, meliputi:
1)   Menyusun laporan layanan orientasi,
2)   Menyampaikan laporan kepada pihak-pihak terkait (kepala sekolah atau madrasah),
3)   Mendokumentasikan laporan layanan.[10]

B. LAYANAN INFORMASI
1. Pengertian Layanan Informasi
Menurut Winkel (1991) layanan informasi merupakan suatu layanan yang berupaya memenuhi kekurangan individu akan informasi yang mereka perlukan. Layanan informasi ini juga bermakna usaha-usaha untuk membekali siswa dengan pengetahuan serta pemahaman tentang lingkungan hidupnya dan tentang proses perkembangan anak muda.[11]
Layanan informasi yaitu layanan bimbingan konseling yang memungkinkan peserta didik dan pihak-pihak lain yang dapat memberikan pengaruh yang besar kepada peserta didik (terutama orang tua) menerima dan memahami informasi (seperti informasi pendidikan dan informasi jabatan) yang dapat dipergunakan sebagai bahan pertimbangan dan pengambilan keputusan sehari-hari sebagai pelajar, anggota keluarga dan masyarakat.[12]
Layanan Informasi; layanan yang memungkinan peserta didik menerima dan memahami berbagai informasi (seperti : informasi belajar, pergaulan, karier, pendidikan lanjutan). Tujuan layanan informasi adalah membantu peserta didik agar dapat mengambil keputusan secara tepat tentang sesuatu, dalam bidang pribadi, sosial, belajar maupun karier berdasarkan informasi yang diperolehnya yang memadai.[13]
2. Tujuan Layanan Informasi
Layanan informasi bertujuan agar indivdu (siswa) mengetahui dan menguasai informasi yang selanjutnya dimanfaatkan untuk keperluan hidupnya sehari-hari dan perkembangan dirinya. Selain itu apabila merujuk kepada fungsi pemahaman, layanan informasi bertujuan agar individu memahami berbagai informasi dengan segala seluk beluknya. Penguasaan akan berbbagai informasi dapat digunakan untuk mencegah timbulnya masalah, pemecahan suatu masalah, untuk memelihara dan mengembangkan potensi individu serta memungkinkan individu (peserta layanan) yang bersangkutan membuka diri dalam mengaktualisasikan hak-haknya.
Layanan informasi juga bertujuan untuk pengembangan kemandirian. Pemahaman dan penguasaan individu terhadap informasi yang diperlukannya akan memungkinkan individu  untuk:
a.      Mampu memahami dan menerima diri dan lingkungannya secara objektif, positif, dan dinamis.
b.      Mengambil keputusan.
c.      Mengarahkan diri untuk kegiatan-kegiatan yang berguna sesuai dengan keputusan yang diambil.
d.     Mengaktualisasikan secara terintegrasi.[14]

3.        Metode Layanan Informasi di Sekolah
Beberapa metode layanan informasi di sekolah antara lain sebagai berikut:
a.       Ceramah
Ceramah merupakan metode pemberian informasi yang paling sederhana, mudah dan murah, dalam arti bahwa metode ini dapat dilakukan hampir oleh setiap petugas bimbingan di sekolah. Penyajian informasi dapat dilakukan oleh kepala sekolah, guru-guru, dan staf sekolah lainnya. Atau dapat juga dengan mendatangkan narasumber, misalnya dari lembaga-lembaga pendidikan, Departemen Tenaga Kerja, badan-badan usaha, dan lain-lain.
b.      Diskusi
Penyampaian informasi kepada siswa dapat dilakukan melalui diskusi. Diskusi semacam ini dapat diorganisasikan oleh siswa sendiri maupun konselor, atau guru.

c.       Karyawisata
Karyawisata merupakan salah satu bentuk kegiatan belajar mengajar yang telah dikenal secara luas, baik oleh masyarakat sekolah maupun msayarakat umum. Dalam bidang konseling, karyawan mempunyai dua sumbangan pokok. Pertama, membantu siswa belajar dengan menggunakan sumber yang ada dalam masyarakat yang dapat menunjang perkembangan mereka. Kedua, memungkinkan diperolehnya informasi yang dapat membantu pengembangan sikap-sikap terhadap pendidikan, pekerjaan, dan berbagai masalah dalam masyarakat.
Penggunana karyawisata untuk maksud membantu siswa mengumupulkan informasi dan mengembangkan sikap-sikap positif, menghendaki siswa berpartisipasi secara penuh baik dalam persiapan maupun pelaksanaan berbagai kegiatan terhadap objek yang dikunjungi.
d.      Buku Panduan
Buku-buku panduan (seperti buku panduan sekolah atau perguruan tinggi, buku panduan kerja bagi para karyawan) dapat membantu siswa dalam mendapatkan banyak informasi yang berguna.
e.       Konferensi Karier
Dalam konferensi karier, narasumber dari kelompok-kelompok usaha, jabatan atau dinas lembaga pendidikan, dan lain-lain yang diundang, mengadakan penyajian tentang berbagai aspek program pendidikan dan latihan/pekerjaan yang diikuti oleh siswa. Penyajian itu dilanjutkan dengan tanya jawab dan diskusi yang secara langsung melibatkan siswa.[15]


4.        Pelaksanaan Layanan Informasi
Pelaksanaan layanan informasi menempuh tahapan-tahapan sebagai berikut:
1.      Perencanaan yang mencakup kegiatan:
a.       Identifikasi kebutuhan akan informasi bagi calon peserta layanan.
b.      Menetapkan materi informasi sebagai isi layanan.
c.       Menetapkan subjek sasaran layanan.
d.      Menetapkan narasumber.
e.       Menyiapkan prosedur, perangkat, dan media layanan.
f.       Menyiapkan kelengkapan administrasi.
2.      Pelaksanaan yang mencakup kegiatan:
a.       Mengorganisasikan kegiatan layanan.
b.      Mengaktifkan peserta layanan.
c.       Mengoptimalkan penggunaan metode dan media.
3.      Evaluasi yang mencakup kegiatan:
a.       Menetapkan materi evaluasi.
b.      Menetapkan prosedur evaluasi.
c.       Menyusun instrument evaluasi.
d.      Mengolah hasil aplikasi instrument
4.      Analisis hasil evaluasi yang mencakup kegiatan:
a.       Menetapkan norma atau standar evaluasi.
b.      Melakukan analisis.
c.       Menafsirkan hasil analisis.
5.      Tindak lanjut yang mencakup kegiatan:
a.       Menetapkan jenis dan arah tindak lanjut.
b.      Mengomunikasikan rencana tindak lanjut kepada pihak terkait.
c.       Melaksanakan rencana tindak lanjut.
6.      Pelaporan yang mencakup kegiatan:
a.       Menyusun laporan layanan informasi.
b.      Menyampaikan laporan kepada pihak terkait (kepala sekolah atau madrasah)
c.       Mendokumentasikan laporan.[16]
Selain itu ada beberapa kegiatan pendukung dalam layanan informasi, yaitu:
a.       Aplikasi instrumentasi dan himpunan data.
b.      Konferensi kasus.
c.       Kunjungan rumah.
d.      Alih tangan kasus.
Layanan informasi juga dapat dilakukan diluar sekolah, namun yang berperan adalah lembaga yang ada di masyarakat baik yang diselenggarakan oleh pemerintah maupun swasta atas prakarsa masyarakat itu sendiri, termasuk di dalamnya LBH, Puskesmas, biro perjalanan, kursus-kursus, pusat-pusat pengembangan keterampilan dan pemberian jasa perlu ditonjolkan. Peranan kondelor diluar sekolah dapat berada dalam lembaga-lembaga tersebut , atau membentuk lembaga sendiri seperti “Biro Pelayanan Orientasi dan Informasi”.[17]
sumber:
http://adventureisagoodteacher.blogspot.com/2011/10/layanan-orientasi-dan-layanan-informasi.html
Drs. Tohirin, M. Pd. 2008. Bimbingan dan Konseling di Sekolah dan Madrasah (Berbasis Integrasi). Jakarta: PT Rajagrafindo Persada.. Hlm. 141
Pengantar Pelaksanaan Program Bimbingan dan Konseling di Sekolah.
Pengantar Pelaksanaan Program Bimbingan dan Konseling di Sekolah.
Prayitno & Erman Atmi. 2004. Dasar-dasar Bimbingan dan Konseling. Jakarta: Rineka Cipta


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar